Catatan Pangeran Hujan

November 2, 2008

Hari ini aku akan turun. Tak sabar rasanya. Aku ingin segera melihat tubuh kurus itu.

 

Apakah ia menunggu- menunggu saat bisa bertemu denganku seperti yang aku tunggu?

 

Wajah tirus itu berada dibalik jedela, kabur oleh aliran air hujan yang membasahi kacanya. Wajah itu murung, tidak seperti biasanya. Bibir mungil itu tidak menyungging senyum. Mata yang biasanya bersinar itu redup.

 

Apa? Aku tidak ingin melihatmu yang begini. Aku ingin dirimu yang dulu.

 

Aku rindu saat-saat itu. Merajut kembali kenangan indah itu…

 

Saat itu  fajar. Gulita.

 

Saat dimana aku turun, saat seluruh manusia terbuai. Aku tidak merasa apapun yang spesial, sampai akhirnya kau hadir.

 

Kau muncul dari balik jendela, membukanya, dengan kedua tangan kecilmu. Wajah bulatmu bersinar. Ya. Benar bersinar dalam keremangan pagi.

 

Mungkin karena kau tersenyum.

 

Kau membuka jendela lebar sekali. Bibir itu melengkung gembira. Tak lama kau hilang dari bingkai jendela. Aku sempat merasa kehilangan.

 

Tapi sesaat kemudian kau muncul dari balik pintu, masih dengan baju tidur biru. Membentangkan kedua tanganmu, menengadah pasti.

 

Kau melihatku, seperti aku yang terpesona melihatmu.

 

Sempurna.

 

Aku jatuh.

 

Jatuh untukmu.

 

Embun telah ada sejak itu.

                                                                                                                   

Tahukan kau, aku selalu berharap dapat turun lebih lama? Berharap dapat memandangmu sejenak lebih lama. Menyentuhmu lebih banyak. Merasakanmu dalam diriku. Hari-hari itu ada. Aku tak pernah merasakan gelora ini sebelumnya. Aku dan kau adalah satu.

 

Walau aku tahu kau takkan mengetahui.

 

Tapi tak apa.

 

Sampai suatu saat kulihat kau berdiri di sebuah halte, menungguku pergi. Jenuh, aku tahu kau merasakan itu. Kau mulai melangkahkan diri ke jalan ditengah guyuran air yang tak kunjung henti dari singgasanaku. Kemudian seseorang datang menghampiri. Aku terkesiap.

 

Ia melindungimu. Ia memayungimu.

 

Kau menatap orang itu dengan kaget. Tapi kemudian aku bisa merasakan tubuhmu memanas, seperti halnya wajahmu yang memerah.

 

Ketika itu dadaku sesak.

 

Ketika kau berjalan bersamanya. Dekat. Tapi aku tidak bisa menggapaimu. Aku hanya bisa menetes bersama air-air itu.

 

Entah berapa lama… seperti selamanya. Aku kehilangan. Kau tak bisa ku raih lagi.

 

Tak ada lagi senyuman indah itu. Tak ada lagi tawa ceria itu.

 

Hanya pedih.

 

Aku pun mulai enggan turun. Berbagai cara aku ingin melupakanmu.

 

Tapi kaulah satu-satunya. Tak ada yang lain.

 

Saat aku diperintahkan turun, rasanya berat sekali.

 

Akhirnya aku harus melihatmu lagi. Kali ini berbeda.

 

Kejadian itu berbalik. Orang itu berjalan dalam naunganku. Kau ingin melindunginya dariku. Secercah sinar memancar dari wajahmu yang merona karena dingin.

 

Ia menghampiri seseorang. Kau terpaku. Ia menyapa orang itu. Kau terpaku. Ia berjalan bersama orang itu, dekat. Kau menjatuhkan payung dalam genggaman tangan mungilmu.

 

Rasanya aku ingin bersorak. Aku dapat meraihmu! Aku dapat menjangkaumu! Aku berada bersamamu! Aku dapat-

 

Tapi kau tertunduk. Lama.

 

Aku terdiam, menatapmu lekat. Seketika aku tahu.

 

Buliran air itu bukan pasukanku. Air yang mengalir pelan itu- air yang menetes itu bukan bagian dariku.  Bukan.

 

Kau, sang Putri Hujan.

 

 

 

Hello world!

October 31, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.